Cir-Ciri
Filsafat
Pemikiran
kefilsafatan menurut Drs. Suyadi MP mempunyai karakteristik sendiri, yaitu menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Hal ini sama pendapat Drs Sri Suprapto
Wirodiningrat yang menyebut juga pikiran kefilsafatan mempunyai tiga ciri, yaitu menyeluruh, mendasar din
spekulatif. Lain halnya Sunoto menyebutkan
ciri-ciri dari berfilsafat, yaitu deskriptif, kritik, atau analitik,
evaluatik atau nomatif, spekulatif, dan sistematik.
1.
Menyeluruh
Artinya, pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari satu sudut
pandangan tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui hubungan antara
ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu lain, hubungan ilmu dengan moral, seni, dan tujuan hidup
2.
Mendasar
Artinya, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang
fundamental atau esensial
objek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap
nilai dan keilmuan. Jadi tidak hanya berhenti pada periferi (kulitnya) saja,
tetapi sampai tembus ke kedalamannya.
3.
Spekulatif
Artinya, hasil pemikiran
yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai
dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru. Meskipun demikian tidak
berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak pernah
mencapai keselesaian. (Sri Suprapto Wirodiningrat, 1981, hlm. 113-114)
Adapun menurut
Ali Mudhofir (1996) ciri-ciri
berpikir secara kefilsafatan adalah sebagai berikut.
1)
Berpikir secara kefilsafatan
dicirikan secara radikal. Radikal berasal dari kata Yunani radix yang
berarti akar. Berpikir secara radikal adalah berpikir sampai keakar-akarnya.
Berpikir sampai ke hakikat, esensi atau sampai ke substansi yang dipikirkan. Manusia yang
berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu
pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
2)
Berpikir secara kefilsafatan dicirikan
secara universal
(umum). Berpikir secara universal adalah berpikir tentang hal-hal serta
proses-proses yang bersifat umum, dalam arti tidak memikirkan hal-hal yang parsial. Filsafat
bersangkutan dengan pengalaman umum dari umat manusia. Dengan jalan penjajakan yang
radikal itu filsafat berusaha untuk sampai pada berbagai kesimpulan yang
universal
3)
Berpikir secara kefilsafatan
dicirikan secara konseptual. Konsep di sini adalah hasil generalisasi dari pengalaman tentang hal-hal serta
proses-proses individual. Dengan
ciri yang konseptual ini, berpikir secara kefilsafatan me. lampaui batas
pengalaman hidup sehari-hari.
4)
Berpikir secara
kefilsafatan
dicirikan secara koheren dan konsisten. Koheren,
artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir (logis). Konsisten, artinya tidak
mengandung kontradiksi.
5)
Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara sistematik. Sistematik berasal dari kata sistem. Sistem di sini
adalah kebulatan dari
sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata pengaturan untuk
mencapai sesuatu maksud atau menunaikan sesuatu peranan tertentu. Dalam mengemukakan jawaban terhadap
sesuatu masalah, para filsuf atau ahli filsafat memakai berbagai pendapat sebagai wujud dari
proses berpikir yang disebut berfilsafat. Pendapat-pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling
berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6)
Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara komprehensif. Komprehensif
adalah mencakup secara menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan berusaha untuk
menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
7)
Berpikir secara kefilsafatan
dicirikan secara bebas. Sampai batas-batas yang luas maka setiap filsafat boleh
dikatakan merupakan suatu hasil dari pemikiran yang bebas. Bebas dari berbagai
prasangka
sosial, historis, kultural ataupun
religius.
8)
Berpikir secara kefilsafatan
dicirikan dengan pemikiran yang bertanggung jawab. Seseorang yang berfilsafat adalah orang yang
berpikir sambil ber tanggung jawab. Pertanggungjawaban yang pertama adalah terhadap
hati nuraninya sendiri. Di sini tampaklah hubungan antara kebebasan berpikir
dalam filsafat dengan etika yang melandasinya.
Fase berikutnya ialah cara bagaimana ia merumuskan berbagai pemikirannya
agar dapat dikomunikasi kan pada orang lain. (Ali Mudhofir, 1996, hlm. 13-15)
Sumber: Surajiyo. (2013). Filsafat Ilmu dan Perkembangannnya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar