Senin, 24 Oktober 2016

Ciri-ciri Filsafat

Cir-Ciri Filsafat
Pemikiran kefilsafatan menurut Drs. Suyadi MP mempunyai karakteristik sendiri,  yaitu menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Hal ini sama pendapat Drs Sri Suprapto Wirodiningrat yang menyebut juga pikiran kefilsafatan mempunyai tiga ciri, yaitu menyeluruh, mendasar din spekulatif. Lain halnya Sunoto menyebutkan ciri-ciri dari berfilsafat, yaitu deskriptif, kritik, atau analitik, evaluatik atau nomatif, spekulatif, dan sistematik.
1.        Menyeluruh
Artinya,  pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari satu sudut pandangan tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu lain, hubungan ilmu dengan moral, seni, dan tujuan hidup
2.        Mendasar
Artinya,  pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental atau esensial objek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan. Jadi tidak hanya berhenti pada periferi (kulitnya) saja,  tetapi sampai tembus ke kedalamannya. 
3.        Spekulatif
Artinya, hasil pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya.  Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru. Meskipun demikian tidak berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak pernah mencapai keselesaian. (Sri Suprapto Wirodiningrat, 1981, hlm. 113-114) 
Adapun menurut Ali Mudhofir (1996) ciri-ciri berpikir secara kefilsafatan adalah sebagai berikut. 
1)      Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara radikal. Radikal berasal dari kata Yunani radix yang berarti akar. Berpikir secara radikal adalah berpikir sampai keakar-akarnya. Berpikir sampai ke hakikat, esensi atau sampai ke substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
2)      Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara universal (umum). Berpikir secara universal adalah berpikir tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum, dalam arti tidak memikirkan hal-hal yang parsial. Filsafat bersangkutan dengan pengalaman umum dari umat manusia. Dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai pada berbagai kesimpulan yang universal
3)      Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara konseptual. Konsep di sini adalah hasil generalisasi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Dengan ciri yang konseptual ini, berpikir secara kefilsafatan me. lampaui batas pengalaman hidup sehari-hari.
4)      Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara koheren dan konsisten. Koheren,  artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir (logis). Konsisten, artinya tidak mengandung kontradiksi.  
5)      Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara sistematik. Sistematik berasal  dari kata sistem. Sistem di sini adalah kebulatan dari sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata pengaturan untuk mencapai sesuatu maksud atau menunaikan sesuatu peranan tertentu. Dalam mengemukakan jawaban terhadap sesuatu masalah, para filsuf atau ahli filsafat memakai berbagai pendapat sebagai wujud dari proses berpikir yang disebut berfilsafat. Pendapat-pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6)      Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara komprehensif. Komprehensif adalah mencakup secara menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan berusaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan. 
7)      Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara bebas. Sampai batas-batas yang luas maka setiap filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil dari pemikiran yang bebas. Bebas dari berbagai prasangka sosial, historis,  kultural ataupun religius.
8)      Berpikir secara kefilsafatan dicirikan dengan pemikiran yang bertanggung jawab.  Seseorang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sambil ber tanggung jawab. Pertanggungjawaban yang pertama adalah terhadap hati nuraninya sendiri. Di sini tampaklah hubungan antara kebebasan berpikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya.  Fase berikutnya ialah cara bagaimana ia merumuskan berbagai pemikirannya agar dapat dikomunikasi kan pada orang lain. (Ali Mudhofir,  1996, hlm. 13-15) 


Sumber: Surajiyo. (2013). Filsafat Ilmu dan Perkembangannnya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar