Dominasi dalam Filsafat
Dominasi dalam filsafat
terjadi pada masa renaisans, yang berarti
“lahir
kembali”. Pengertian riilnya adalah manusia mulai memiliki kesadaran-kesadaran baru yang mengedepankan
nilai dan keluhuran manusia.
Suasana dan budaya berpikirnya memang melukiskan kembali kepada semangat awali,
yaitu semangat Filsafat Yunani kuno yang mengedepankan penghargaan terhadap
kodrat manusia itu sendiri.
Sebuah masyarakat
dilingkupi kekuasaan. Sistem kemasyarakatan hingga ketaatan sebuah ideologi selalu
dikonstruksi oleh kekuasaan tertentu. Kekuasaan itulah yang disebut dominasi.
Buku “Dominasi Penuh Muslihat, Akar Kekerasan dan Diskriminasi tahun 2010” yang
ditulis oleh Haryatmoko disampaikan dalam banyak segi kehidupan yang didominasi
oleh kekuasaan tertentu. Gagasan-gagasan tersebut berasal
dari para pemikir seperti Pierre Bourdieu, Jean Baudrillard, Jurgen Habermas, Michel Foucault,
hingga Jacques Derrida yang terkenal
selalu menaruh curiga atas kebenaran-kebenaran yang sudah terlanjur diterima secara umum.
Michel Foucault yang
menelurkan gagasan arkeologi pengetahuan
yakin
bahwa ada kepentingan di balik sebuah pengetahuan dalam masyarakat. Hal yang sama juga terdapat
dalam pemikiran Jurgen Habermas
yang merupakan salah seorang pemikir aliran kritis mazhab
Frankfurt, ingin membebaskan manusia
dari rasionalitas instrumental yang
kental dengan logika dan formalisme dalam menentukan kebenaran.
Dari berbagai banyak
dominasi-dominasi yang ada dalam segi kehidupan ternyata terdapat dominasi
utama sebagai akar kekerasan dalam masyarakat yaitu dominasi agama, dominasi
wacana dan dominasi uang yang mengarah kepada konsumerisme. Dominasi agama
kerap memicu kekerasan. Kekerasan agama
tidak hanya persoalan penafsiran teks, tetapi mengakar pada anggapan bahwa
Tuhan pun berhak melakukan pembalasan atau kekerasan sebagai bagian dari kesucian-Nya.
Hal ini terjadi pada zaman kekuasaan dogma gereja atas masyarakat. Pencerahan memberi
nalar untuk perang melawan dogma-dogma. Keruntuhan dogmatisme gereja
merupakan syarat bagi pembebasan
masyarakat dari penderitaan. Penderitaan yang dimaksudkan
adalah penindasan yang dilakukan penguasa dan pendeta kepada masyarakat. Perbudakan yang
diderita orang hampir di semua Negara
adalah teror keagamaan yang menciptakan ketakutan pada semua umat manusia.
Dominasi wacana yang
paling sulit diatasi, terutama menyangkut
kekerasan
simbolik. Dominasi ini beroperasi pada tataran bahasa, cara kerja dan cara bertindak. Dampak
dari dominasi wacana cenderung halus
dan tidak terasa. Parahnya dominasi ini diakui dan diterima si korban, contoh dominasi wacana
adalah posisi subordinasi perempuan. Dominasi lain yang kental dengan
masyarakat kontemporer
adalah uang. Masyarakat kontemporer menganggap bahwa uang menjadi ukuran untuk menentukan
berbagai hal. Konsumsi tidak lagi
berdasarkan kebutuhan melainkan tanda. Konsumen membeli barang bukan karena manfaat, tetapi
dalam kaitan pemaknaan seluruh objek.
Bahkan konsumsi bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi karena
tekanan psikologi dan sosial.
Kritik ideologi
merupakan pemikiran yang sangat hangat pada
mahzab
Frankfurt. Nama Mazhab Frankfurt digunakan untuk menunjukkan sekelompok sarjana
yang bekerja pada Lembaga untuk Penelitian
Sosial di Frankfurt Main. Lembaga ini didirikan pada tahun 1923 oleh Felix Weil,
anak seorang pedagang gandum yang kaya raya dan sarjana dalam ilmu politik dengan
bantuan ayahnya. Lembaga ini
bertujuan untuk menyelidiki persoalan-persoalan masyarakat sosial dari berbagai segi ilmiah. Seperti
sejarah gerakan kaum buruh dan asal-usul
antisemitisme yang pada waktu itu
sosiologi empiris mendapat kurang
kesempatan di Universitas Jerman, terutama sosiologi yang berhaluan marxistis.
Tokoh Filsuf pada masa
itu antara lain, yaitu: Harbert Marcuse,
Max
Horkheimer, Theodor W.Adorno dan yang paling muda adalah Jurgen Habermes. Para penganut
Mazhab Frankfurt memberikan inspirasi
kepada Jurgen Habermes dalam melahirkan kritik-kritik
ideologi yang tidak hanya kritis namun
juga emansipatif. Habermes bersama
teman-temannya banyak terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran Karl Marx yang sangat kritis terutama
terhadap pertautan diskursus antara
kelas borjuis dan ploretar.
Kepentingan kekuasaan
yang berdiri dan mendukung kelompokkelompok
tertentu.
Sehingga, dalam praktiknya terdapat distorsi-distorsi ideologi yang tidak seimbang dalam
kehidupan riil masyarakat. Karena
dominasi dan monopoli industri modern yang menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Secara halus melarutkan ke diskursus
pertentangan kelas melalui bentuk kapitalisme. Seolah-olah tidak pernah terjadi
bahwa segala ideologi diartikulasikan secara ideologis sebagai kesadaran palsu
yang tidak hanya menghadirkan dirinya sebagai satu makna yang dapat dipahami,
namun juga dipahami dalam makna sejatinya. Makna sejati yaitu suatu makna dalam hubungannya dengan satu kepentingan
untuk melakukan dominasi.
Kritik ideologi Marxian
dan psikoanalisis Freudian adalah contoh-contoh klasik penelitian yang berorientasi
pada kritik tersebut. Namun keduanya
tidak dapat diterima begitu saja sebagai paradigma. Sebagaimana disampaikan oleh para pendirinya,
keduanya mengandung sebuah
kesalahpahaman ilmiah. Maka pencarian model tepat bagi teori sosial kritis masih cukup
dibutuhkan. Mirip dengan hal itu, meskipun kritik transendental Kant atas
pengetahuan dan refleksi fenomenologis Hegel atas kesadaran dalam
manifestasinya memberikan pijakan awal bagi diskusi Habermas tentang teori
pengetahuan, namun dia tidak menganggap keduanya sebagai suatu konsepsi
filsafat yang tepat.
Pengembangan cara
penelitian filosofis yang sesuai dengan
kepentingan
emansipatoris juga masih diperlukan. Konsekuensinya, dalam diskusinya tentang
kepentingan ketiga ini, Habermas tidak hanya setuju begitu saja dengan refleksi
atas cara penelitian yang umumnya diterima sebagaimana yang dilakukannya pada
dua kepentingan sebelumnya dan tidak mengungkapkan landasan berbagai disiplin
yang telah mapan namun dia terlibat dalam refleksi epistemologis sebagai
langkah awal untuk merumuskan konsepsi tentang penelitian sosial dan penelitian
filosofis.
Di sepanjang sejarah
filsafat, tema kebenaran akan muncul
pembebasan
dalam berbagai variasi. Pada zaman Yunani kuno, ajakan Socrates untuk melaksanakan
perintah Delphic untuk mengenali diri sendiri adalah
contoh paling konkrit. Usaha sistematis yang dilakukan Plato dan
Aristoteles bukannya tidak didorong oleh
kepentingan dalam emansipasi. Sikap
teori murni, kontemplasi yang tidak berkepentingan dan janji tentang adanya pemurnian dari segala
dorongan dan hasrat yang tidak konstan
dalam
kehidupan sehari-hari.
Di zaman modern,
pencerahan memberi nalar pada posisi
partisipan
dalam perang melawan dogmatisme. Kemajuan wawasan kritis berarti kemajuan ke
arah otonomi individu seperti keruntuhan kendala dogmatis yang merupakan syarat
bagi pembebasan masyarakat dari penderita tidak seharusnya yang justru dipilih
secara sukarela. Emansipasi melalui
pencerahan memerlukan kehendak untuk rasional. Maka ide tentang nalar meliputi kehendak untuk
rasional, kehendak untuk meraih kedewasaan, otonomi
dan tanggung jawab
dalam kehidupan. Meskipun konsep
kepentingan nalar tampak dalam filsafat praktis Immanuel Kant, namun pandangan bahwa nalar
seharusnya mencakup suatu dorongan untuk
membebaskan
nalar tidak dapat dikonsepkan di dalam kerangka kerja transendental Kant. Membiarkan kehendak
ditentukan oleh sesuatu selain pertimbangan
atas nalar hukum praktis, yaitu bertindak berdasarkan kehendak atau kecenderungan
tertentu.
Bagi Kant merupakan heteronomi kehendak
(penggembosan kehendak),
tergadainya kebebasan dan rasionalitas seseorang. Motif yang melandasi tindakan bebas, tindakan
rasional, bukanlah kepentingan subjektif
terhadap
objek tindakan. Motif tersebut pasti merupakan motif yang berlaku dan valid bagi setiap makhluk yang
rasional. Di sisi lain, perasaan moral
menjadi
bukti bagi adanya sesuatu yang mirip kepentingan faktual dalam pelaksanaan hukum moral dalam
wilayah kebebasan.
Kepentingan jenis ini
tidak bersifat inderawi. Oleh karena itu, Kant menyebutkan
kesenangan praktis dalam moralitas, yaitu suatu tindakan yang ditentukan oleh prinsip-prinsip
nalar, sebagai kepentingan murni
(berlawanan
dengan kepentingan patologis terhadap objek tindakan). Konsep kepentingan murni menganggap
nalar berasal dari suatu kausalitas yang
bertentangan dengan konsep kemampuan hasrat.55
Melihat kenyataan itu,
Habermas dengan pemikiran barunya yaitu
pendekatan
kritis dan pendekatan materialistik. Baginya pendekatan kritis sangat penting untuk melawan
dominasi dan monopoli ideologi. Materialistik
berusaha membongkar distorsi-distorsi ideologis manusia dalam kepentingan hubungan
produksi. Kepentingan dalam pemeliharaan diri tidak dapat didefinisikan
secara terpisah dari kondisi kultural kehidupan manusia.
Subjek-subjek sosial mula-mula harus menginterpretasikan kehidupan.
Interpretasi diarahakan pada gagasan tentang kehidupan yang baik. Istilah
kehidupan yang baik bukanlah sesuatu yang didasarkan pada konvensi murni dan
tidak pula punya esensi yang baku. Gagasan ideal tentang
otonomi dan tanggung jawab diletakkan di dalam struktur komunikasi yang diharapkan dapat
diperoleh dalam setiap tindakan komunikasi.
Kondisi ideal ini belum menjadi nyata dan dia tidak dapat dicapai dalam satu tindakan intuisi
diri saja karena proses pembentukan diri
spesies
bukan sesuatu yang tak bersyarat. Pembentukan diri ini tergantung kepada berbagai kondisi interaksi
simbolis dan pertukaran material dengan
alam.
Akibatnya, ukuran-ukuran kedewasaan yang dapat dicapai pada tahap tertentu dari perkembangan historis
juga dikondisikan.
Kepentingan nalar untuk
melakukan emansipasi yang ditanamkan
dalam
proses pembentukan diri spesies dan yang memutar gerakan refleksi bertujuan untuk mewujudkan
kondisi-kondisi interaksi simbolis dan
tindakan
instrumental. Kepentingan ini mengandalkan adanya bentuk-bentuk terbatas dari kepentingan kognitif
praktis dan kepentingan kognitif
teknis.
Sampai pada ukuran-ukuran tertentu, konsep kepentingan nalar yang dikemukakan oleh idealisme perlu
ditafsirkan ulang dalam konteks materialis
yaitu kepentingan emansipatoris tergantung kepada kepentingan yang terdapat dalam orientasi
tindakan intersubjektif dan kontrol teknis
yang
mungkin berlangsung.
Bagi Habermas, ide
tentang satu masyarakat yang dibebaskan dari
sejarah
dan diperuntukkan bagi penguasaan teknis atas masa depannya, ide tentang sejarah dan ide tentang
ilmu sosial post historis yang dibebaskan
dari
interpretasi situasi historis yang terkait dengan konteks sama-sama bersifat inklusif. Gagasan-gagasan
tersebut dipahami secara hermeneutis
dalam kaitannya dengan perkembangan
sosial budaya masyarakat modern.
Di
dalam kenyataan, teori tindakan sosial yang diyakini bersifat universal tetap berakar dan mencerminkan
perkembangan ini. Hal ini tampak jelas
dalam
perumusan beberapa kategori dasar. Artinya tidak ada alternatif bagi dialog
sebagai media untuk mengklarifikasi dan mengevaluasi klaim-klaim validitas yang saling bertentangan.
Pengkritik ideologi membayangkan
dirinya
punya superioritas sudut pandang dalam kenyataan tidak mampu di justifikasi. Habermas mampu
mengantisipasi hasil dialog rasional sebelum
dialog
itu berlangsung. Seperti halnya kritik ideologi, hermeneutika dipandu oleh antisipasi akan datangnya
suatu kehidupan adil.
Namun nalar ideal ini
menghalangi siapapun mengklaim bahwa
dirinya
telah mendapatkan suatu pandangan yang benar dan menganggap pandangan orang lain delusif.
Penentuan ideal-ideal nalar dan keadilan tidak akan
dapat dicapai secara terpisah dari usaha memperoleh kesepemahaman dalam dialog yaitu pemahaman
hermenutis. Hal-hal yang baik bagi manusia
merupakan
suatu yang dialami dalam praktik manusia, dan dia tidak dapat ditentukan secara terpisah dari
situasi konkrit tentang suatu hal yang lebih
diinginkan
dari pada hal lain. Apabila dipahami sebagai sebuah gagasan umum, gagasan tentang kehidupan
yang adil adalah suatu yang hampa.
Kritik ideologi dari
teori kritis generasi pertama akhirnya ditujukan pada satu sasaran yaitu akal
instrumental, yaitu rasio yang melihat realitas sebagai potensi untuk
dimanipulasi, ditundukkan, dan dikuasai secara total. Akal jenis ini memandang
realitas, alam, dan manusia sebagai objek
klasifikasi,
konseptualisasi, dan perlu ditata secara efisien untuk tujuan yang dianggap penting untuk kekuasaan.
Dengan akal instrumental, segala usaha
manusia
untuk memahami realitas direduksi sebatas mencari jawaban bagaimana. Akibatnya, kebijakan
publik menjadi persoalan teknis semata-mata yang mengabaikan permasalahan
nilai-nilai. Akal instrumental digunakan
oleh kapitalisme lanjut untuk menyeregamkan dan membendakan
kesadaran manusia dengan menciptakan
kebutuhan-kebutuhan palsu.
Para pendahulu teori
kritik menemukan kebuntuan dalam proyek
pembebasan
manusia. Kesimpulan yang dicapai bahwa emansipasi yang dilakukan oleh manusia sejak zaman
Yunani kuno hingga zaman modern pada akhirnya mengarahkan manusia kepada irasionalitas.
Emansipasi menghasilkan
perbudakan, rasionalisasi menghasilkan irasionalitas, dan pencerahan menghasilkan kebutaan.
Habermas menegaskan rasio merupakan
sesuatu yang berkaitan erat dengan kemampuan linguistik manusia. Sebagai ganti dari paradigma
kerja, akal didasarkan pada paradigma
komunikasi. Manusia adalah makhluk komunikasi yang mencapai kebermaknaannya melalui
proses komunikasi. Habermas mengandalkan
komunikasi sebagai sarana pencerahan manusia.
Menurut Habermas,
komunikasi mengandaikan dua hal, yaitu:
1. Manusia
berhadapan satu sama lain sebagai pihak-pihak yang sejajar dan berdaulat. Komunikasi tidak
menciptakan situasi subjek-objek yang
bersubordinasi
satu sama lain.
2. Komunikasi
menyediakan ruang kebebasan untuk menangkap maksud orang lain. Di sini sama sekali
tidak ada pemaksaan agar satu pendapat
diterima
dan pendapat lain tidak diterima.
Berdasarkan paradigma
komunikasi, Habermas mengembangkan
teori
tindakan komunikasi. Menurutnya, komunikasi yang sehat adalah komunikasi yang
ditandai oleh kebebasan tiap partisipan untuk menentang klaim-klaim tanpa rasa
takut akan tindakan kekerasan, intimidasi, dan sebagainya. Dalam komunikasi
yang sehat, tiap partisipan memiliki
kesempatan
yang sama untuk berbicara, membuat keputusan, menampilkan diri, mengajukan klaim normatif
serta menentang pendapat partisipan lain.
Habermas dengan teori
tindakan komunikasi, Habermas menunjukkan
kemampuan manusia untuk melakukan pencerahan diri lewat proses komunikasi. Melalui kegiatan
komunikasi, manusia dapat saling memahami dan membebaskan. Komunikasi akan
menghasilkan konsensus-konsensus yang secara sadar dicapai oleh para partisipan
komunikasi tidak mengandung penindasan. Komunikasi juga dapat menyadarkan
manusia modern dari penindasan pemilik modal
buta. Melalui komunikasi, pencerahan
dan pembebasan manusia dapat dicapai.
Amsal Bakhtiar (2009). Filsafat Agama: Wisata Pemikiran
dan Kepercayaan Manusia.
Jakarta: Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar